
Nextgenindonesia.id – Uni Eropa mulai bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran. Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, menyatakan bahwa sejumlah kebijakan tengah disiapkan untuk mengurangi dampak krisis.
Langkah tersebut meliputi pengendalian tarif jaringan serta penyesuaian pajak listrik. Strategi ini mengacu pada kebijakan yang pernah diterapkan saat invasi Rusia ke Ukraina 2022 memicu gejolak energi di kawasan Eropa.

Gangguan Pasokan Diprediksi Tetap Terjadi
Jørgensen menilai bahwa gangguan distribusi energi kemungkinan akan terus berlangsung, bahkan jika konflik mereda. Hal ini disebabkan kerusakan infrastruktur energi di wilayah terdampak perang.
Selain itu, harga gas alam di Eropa dilaporkan melonjak lebih dari 70 persen sejak konflik antara Amerika Serikat dan sekutunya dengan Iran meningkat pada akhir Februari lalu.
Ketergantungan Energi dan Risiko Jangka Pendek
Meski pasokan minyak mentah dan gas alam tidak sepenuhnya bergantung pada jalur Selat Hormuz, Uni Eropa tetap menghadapi risiko, terutama untuk produk olahan seperti kerosin dan solar.
Sekitar 15 persen kebutuhan kerosin Eropa berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga gangguan distribusi di wilayah tersebut dapat berdampak langsung dalam jangka pendek.
Ketegangan di Selat Hormuz Semakin Meningkat
Konflik yang terus berlangsung membuat kawasan Teluk Persia menjadi tidak stabil. Serangan dilaporkan terjadi di beberapa titik strategis, termasuk fasilitas energi dan kapal tanker di sekitar wilayah Qatar dan Kuwait.
Akibatnya, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz—jalur utama distribusi minyak dan gas dunia—terancam terganggu bahkan hampir terhenti.
Opsi Militer untuk Membuka Jalur Energi
Uni Emirat Arab disebut tengah mendorong pembentukan koalisi internasional bersama Amerika Serikat dan negara lain untuk membuka kembali jalur pelayaran secara paksa.
Namun, langkah ini dinilai berisiko tinggi karena potensi serangan dari Iran di wilayah sempit tersebut, yang dapat memperburuk situasi keamanan global.
Pernyataan Trump dan Eskalasi Konflik
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik dengan Iran bisa segera berakhir dalam beberapa pekan. Ia juga menegaskan bahwa tujuan utama adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menilai pemerintahan Iran semakin melemah, meskipun konflik belum menunjukkan tanda-tanda berakhir sepenuhnya.
Upaya Diplomasi dan Seruan Perdamaian
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya masih ragu untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menyerukan kepada seluruh pemimpin dunia untuk mengedepankan dialog dan mengakhiri konflik.
Risiko Global Semakin Besar
Dengan situasi yang terus memanas, ancaman terhadap stabilitas energi global semakin nyata. Eropa kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga pasokan energi tetap aman sekaligus mengendalikan lonjakan harga yang dapat berdampak pada perekonomian kawasan.








